Cinta Terlarang
“Tahukah kamu apa yang menyedihkan tentang cinta? Ketika kamu menyadari bahwa tidak mungkin untuk bersatu tapi kamu tetap berharap, ketika pikiranmu mengatakan “biarkan pergi” tapi hatimu mengatakan “jangan pergi”, dan ketika seberapa pun kerasnya kamu berusaha untuk melupakan dia tapi kamu tidak bisa, karena kenyataan bahwa kamu mencintainya dan kamu tidak tahu kenapa.”
Di beranda kamar, menikmati pagi yang ramah, matahari pagi yang menyejukkan hati, kicauan burung menemani kesyahduan di tempatku bersila. Secangkir kopi dan gitar membuatnya menjadi lebih sempurna. Hiburan yang menyenangkan dan mewah untuk seorang pengangguran macam aku. Setiap hari adalah misteri, setiap hari penuh dengan pertanyaan tentang apa dan mengapa. Untung aku masih bisa mengantar pesanan nasi ke pabrik, merasa bahwa aku sedikit berguna dan mampu berkarya. Banyak yang menyayangiku, banyak yang mengasihaniku. Aku berterima kasih untuk sayangnya namun aku malu untuk dikasihani.
Aku mempunyai seorang kekasih yang baik hati, bisa menerimaku apa adanya. Mungkin tidak banyak perempuan yang mau dengan seorang pengangguran macam aku. Baginya yang mengenal bahwa aku adalah lulusan perguruan tinggi ternama, hanya masalah waktu untuk mengubah hidupku menjadi lebih baik. Terima kasih tak terhingga untuknya, yang membuatku merasa berarti, paling tidak untuk dirinya. Perjalanan bersamanya adalah kesederhanaan dan kebahagiaan. Meski tak banyak tempat bisa kami singgahi karena keterbatasan, tapi selalu bermakna saat bertemu dengannya, membuatku tersenyum saat sampai rumah.
Suatu ketika aku merasa bosan dengan hidupku, bosan yang tak terhingga. Uang recehan yang ku kumpul setiap hari tidak banyak, tapi aku ingin menjamah dunia, mana mungkin? Ku pergi dari rumah, aku berjalan tanpa tujuan sambil menenteng buku kecilku. Mencoba mencari inspirasi untuk mengubah hidupku. Setelah berjalan kaki hampir 2 jam, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Belum sampai rumah, aku melihat ke arah sebuah restoran siap saji dekat rumahku. Meski ku tahu harga makanannya mahal, ingin rasanya aku duduk disana, untuk sekedar corat-coret di buku kecilku. Aku pun memaksakan diri untuk masuk kesana dan memesan satu gelas minuman soda saja. Ya, hanya itu yang mampu kubeli disana. Tak mengapa, aku tidak terlalu lapar. Hanya sedikit haus karena berjalan cukup jauh, yang penting aku bisa duduk di kursinya, berpikir dan menulis.
Tidak jauh denganku, ada seorang perempuan tersenyum padaku, aku pun berbalik senyum padanya. Ku lihat dia terlihat gugup entah mengapa namun sesekali melihat ke arahku. Dia menghampiriku tak lama kemudian dan berkata “Mas, maaf saya boleh pinjam HPnya ngga? Batre HP saya habis, saya ngga bawa charger, saya harus nelpon penting banget”. “Tapi ngga ada pulsanya mba”, jawabku. “Ngga apa-apa, saya pinjem aja HPnya aja mas, kartunya pake yang saya”, lanjutnya. Oke, aku berikan padanya HP ku lalu dia pun menelepon seseorang. Terdengar panggilan “Sayang”, ah mungkin dia sedang menelepon pacarnya. Namun herannya, sepertinya mereka sedang ribut. Setelah mengakhiri telponnya, dengan wajah gusar dia kembali ke mejaku dan mulai mencopot kartunya dari HP ku. “Makasih yah mas!”, katanya. Dia nampak terus gusar di tempatnya duduk namun lalu pergi, sementara aku masih menulis-nulis di buku kecilku.
Ah, hari ini akhirnya ada yang bisa kulakukan. Selain meminjamkan HPku, aku bisa menulis sesuatu untuk rencanaku ke depan. Setelah menyeberang jalan, aku lihat perempuan yang tadi ada di restoran itu berdiri dan lalu menyapaku lagi. “Mas, maaf saya boleh minta tolong lagi ngga?”. Ah, apalagi dalam pikirku. “Saya takut cowok saya marah, saya mau ketemu dia. Tapi batre HP saya habis, saya harus pergi ke arah Ledeng. Bisa ngga saya pinjam Hpnya lagi, trus mas ikut sama saya sampe Ledeng nanti Hpnya dikembaliin lagi”. Mimpi apa aku semalam sampai ada perempuan meminta bantuan yang seperti itu. Aku bukan tidak ingin menolongnya, tapi masalahnya uang di saku ku hanya 6000 rupiah saja. Besok, belum tentu aku dapat uang lagi. “Mas, tolongin saya yah pliis.. Saya pinjem HPnya, mas nya ikut saya aja sampe Ledeng, saya harus kontak-kontak terus sama cowok saya, saya takut dia marah dan mikir macem-macem” ujarnya dengan wajah ketakutan.
Aku adalah tipe orang yang “nggak tegaan”, aku bisa saja mengatakan tidak tapi yah aku ikuti saja maunya. Nenek ku pernah berkata harus selalu berbuat baik kepada siapa pun. Yah, inilah saatnya aku lakukan. Setelah memasang kembali kartunya di HP ku, aku menemaninya menunggu angkot jurusan Ledeng. Angkot pun tiba dan kami pun duduk di bangku depan. Lagi-lagi dia menelepon pacarnya dan mengatakan bahwa dia akan segera sampai di tempat mereka janjian. Sepanjang jalan ada pikiran nakal di benakku, apakah mungkin jika aku memintanya untuk membayari angkot yang kunaiki, mengingat aku tak punya banyak uang. Baru saja aku menghabiskan uang untuk beli minuman soda, masak aku harus mengeluarkan uang lagi untuk hal yang tidak kurencanakan. Tapi sungguh aku malu untuk menanyakannya. Yah, kuterima nasibku saja, mungkin uang ini memang Tuhan berikan untuk perjalanan ini. Yah sudahlah. Namun tak kusangka, beberapa saat setelah aku berpikiran seperti itu, perempuan ini bilang padaku “Mas, bisa bayarin saya dulu ngga? Saya kebetulan ngga bawa uang. Tadinya pacar saya mau jemput saya di depan sini, tapi gara-gara HP saya mati, dia ngga bisa nelpon saya jadi terus pergi ke rumahnya dulu. Saya jadinya janjian sama dia di dekat Ledeng”. Wah, ternyata penderitaanku bertambah. Sampai di Ledeng aku harus membayar 4000 rupiah untuk dua orang. Dia pun menuju satu mini market di dekat terminal Ledeng. Sementara itu, aku meratapi nasib apes yang baru saja menimpaku. “Udah mba HPnya?” kataku. “Oh, iya mas, sebentar saya nelpon sekali lagi yah”. Setelah memastikan bahwa sang pacar akan datang ke tempat dia menunggu, dia pun melepaskan kartunya dari HP ku. “Makasih yah mas.. Siapa yah nama mas saya lupa nanya tadi?”. “Iya sama-sama. Aku Arya”, jawabku singkat. “Aku Arum. Mas, beneran makasih banget yah. Mas no HPnya berapa? Nanti kapan-kapan kita ketemu saya ganti uangnya”. Aku jawab tapi dia tidak menulisnya, ya kupikir itu hanya basa-basi saja. Tak lama kemudian, aku pun pulang dengan jalan kaki. Sayang jika harus kuhabiskan uangku yang hanya tersisa 2000 rupiah saja. Di jalan aku tertawa sendiri, pengalaman aneh yang baru pertama kali kudapati.
Sesampai di rumah aku kembali ke beranda kamar, bermain gitar. Dan lalu waktu pun berjalan dengan cepat dan aku bukanlah Arya yang dulu lagi. Dalam tempo 3 tahun saja, hidupku tiba-tiba saja berubah melebihi apa yang pernah ku harapkan. Jika mengingat masa-masa itu, saat aku masih mengumpul uang recehan untuk menjalani hidupku lalu membandingkannya dengan keadaanku sekarang, sungguh Tuhan begitu baik padaku, aku hampir memiliki segala yang kuinginkan. Aku bukan lagi seorang pengangguran yang bosan dengan hidupku. Kini banyak sekali hal yang bisa kuperbuat. Aku bersyukur, menyadari bahwa kesulitan dan kesenangan ternyata menjadikan perjalanan dalam hidupku lebih berwarna.
Sore itu sepulang kerja, aku mampir di sebuah warung kaki lima Sop Kaki Kambing kesukaanku. HP ku berbunyi tanda sebuah sms aku terima. Nomornya tidak ku kenal namun isi sms nya hanya menyebut namaku, “Arya”. Aku tak ambil pusing dengan sms yang tak ku kenal apalagi dia hanya mengirim sms berisi namaku saja. Namun selama aku makan, beberapa kali aku mendapati missed call dari nomor yang sama dengan pengirim sms itu. Sampai selesai makan, aku dapat sms lainnya berisi “Ini Arya bukan?”. Lagi-lagi aku tidak ambil pusing dan bergegas pulang ke rumah. Menjelang tidur, beberapa missed call terus menggangguku dari nomor yang sama. Aku pun harus mengambil tindakan karena ini sudah mengganggu kenyamananku. “Iya ini Arya, tolong jangan ganggu, saya mau istirahat”, lewat sms sinis aku meresponnya. Namun aku mendapat balasan “
“. Ah, gila pikirku.
Beberapa hari berlalu, aku mendapati missed call nya dan kali ini aku benar-benar kesal dan mengiriminya sms “Kamu kenapa sih miskol-miskol terus, ngga ada kerjaan yah? Siapa sih kamu?”. Ternyata berhasil, beberapa jam aku tidak mendapat gangguan lagi darinya. Namun tiba-tiba saja sebuah sms membuatku kaget, “Arya, maaf yah kalo aku ganggu. Aku Arum, kamu masih ingat aku?”. Tidak banyak perempuan yang aku kenal dalam hidupku, pastinya aku mengingatnya, terutama karena pengalaman aneh yang pernah kudapati karenanya dulu.
“Oh kamu, iya aku masih inget. Gimana sama pacarnya masih suka berantem? Lain kali jangan lupa ngecas HP yah”, kataku sedikit menyindir.
“Hehe.. Kamu masih inget aja. Iya aku masih sama cowok aku yang dulu kok. Kamu apa kabar? Maaf aku baru kirim km SMS. Tapi aku inget kan nomor kamu? Hehe..”, katanya.
Pikirku, memang hebat ingatannya, padahal aku ingat sekali dulu aku hanya menyebut nomorku satu kali saja, itu pun dia tidak menulisnya. Dia mengajakku bertemu untuk mengobrol, kami pun bertemu di restoran siap saji namun kali ini tidak di dekat rumahku. Sedikit aneh melihatnya kembali, dia terlihat lebih dewasa dan… sangat anggun! Kami pun mengobrol, bercanda tawa mengingat kejadian lucu yang kami alami di masa lalu. Dia katakan bahwa setelah bertemu pacarnya, dia langsung menulis nomorku yang dia sebut terus menerus selama menunggu pacarnya tiba. Karena itu lah dia mengingatnya. Dia katakan, terpikir untuk meneleponku saat dia melihat-lihat phonebook di HPnya. Ya, dia memang hebat masih bisa mengingatku terutama nomor HPku, tapi dia lupa membayar uang angkot 2000 rupiah yang dulu dia pinjam dariku.
Setelah menghabiskan waktu bersama untuk makan malam dan mengobrol, kami pun pulang. Aku mengantar Arum pulang dan di sepanjang jalan kami terus mengobrol. “Arya, ngga tau kenapa, hari ini aku seneng banget loh ketemu kamu lagi. Kamu sekarang beda banget, endut tapi lucu kok” katanya. Sialan, aku dibilang endut, yah tapi dibilang lucu juga, lumayan. “Kamu juga sekarang beda, kamu kelihatan lebih ceria, dulu kamu keliatan madesu (masa depan suram)”, kataku. Sambil memukuli tanganku dia bilang “Iiiiihh.. Km jahat!!!!”. Tiba-tiba, mata kami berpaut pandang, aku dan dia terdiam seketika. Kami menjadi merasa salting (salah tingkah), sepanjang jalan sesekali saling berpandangan lalu diam tanpa kata. Tiba di tempat Arum, aku turun menemaninya hingga pintu pagarnya dan kami masih saling diam, salah tingkah. “Makasih yah Arya buat malem ini, aku seneng banget”, katanya. “Ya Arum, aku juga seneng, aku pulang yah!”, lalu aku kembali ke dalam mobil.
Sepanjang jalan aku merasakan perasaan yang aneh, entah itu apa. Bunga satu taman yang mewangi mengundang pun tidak sewangi dirinya malam itu. Senyumnya lebih sejuk dari matahari pagi yang selalu menyejukkan pagiku. Ah, perasaan apa ini? Aku tidak mungkin menyukainya, apalagi aku tidak begitu mengenalnya dan baru menemuinya lagi. Aku telah dimiliki, begitupun dia. Mengapa aku harus sampai disini, di saat dimana aku merasa nyaman berada di dekatnya. Ini perasaan yang aneh bagiku.
Sesampai di rumah aku tidak bisa langsung tertidur padahal aku sudah lelah seharian bekerja, masih terbayang wajah Arum di mataku. Sudahlah, mungkin ini hanya perasaan sesaat karena euphoria ku yang berlebihan.
Pagi hari saat aku terbangun aku menerima sebuah sms dari Arum, “Arya, selamat pagi. Semalam aku mimpiin kamu. Nanti siang, bisa ketemu ngga pas kamu istirahat makan siang?”. Mengapa dia mengajakku kembali bertemu, padahal aku tidak mau merasakan hal yang sama seperti semalam. Aku pun menolaknya dengan halus, mengatakan bahwa banyak hal yang aku kerjakan. Untungnya, dia bisa memahami dan akhirnya kami tidak bertemu. Aku terus berharap perasaan itu hilang, dan dia akan menjauh dari hidupku.
Sepulang kerja, aku mengunjungi kekasihku, mengobati perasaanku yang salah. Tapi kemudian aku kesal dengan diriku sendiri, kekasihku begitu baik padaku, tidak ada yang salah dengannya, bahkan dia sangat baik kepadaku, memberikan ketenangan dan kedamaian seperti biasanya. Tapi mengapa aku masih saja mengingat wajah Arum saat menatapku di dalam mobil tadi malam. Mengapa Tuhan mempertemukanku lagi dengan Arum? Aku tahu, tidak ada pertemuan yang tidak karena kehendakNya.
Sepulang dari rumah kekasihku, aku mendengarkan lagu-lagu yang mengingatkan kebersamaanku dengan kekasihku supaya aku terus mengingatnya. Namun, di tengah jalan aku menerima sms, lagi-lagi dari orang yang tak kuharapkan, Arum. “Arya, kamu lagi apa? Aku mau ketemu kamu malam ini aku mohon”. Ahhhh.. Aku tidak mau menemuinya, aku pun tak membalas sms nya. Aku silent HPku sampai aku tiba di rumah. Setiba di rumah, aku hubungi kekasihku untuk mengatakan padanya bahwa aku sudah tiba di rumah dengan selamat.
Sebelum tidur, Arum kembali meneleponku tapi tak aku angkat. Dia mengirimiku sms “Arya, tolongin aku, aku butuh kamu”. Aku berusaha untuk tidak peduli dengannya, bukan karena aku membencinya tapi karena aku tidak mau terus mengingatnya. Namun nampaknya ada sesuatu yang dia ingin sampaikan padaku, Arum meneleponku berulang-ulang, 42 missed call. Aku pun bertanya pada diriku sendiri apa yang harus aku lakukan? Apakah mengangkat telepon darinya atau tidak? Aku sedikit kuatir, bagaimana pun dia sudah ku anggap teman. Aku berpikiran, apakah mungkin dia sedang berada dalam masalah serius. Telepon ke 43 kalinya, aku bingung apa kah aku harus mengangkatnya. Ah, aku angkat saja!
“Halo..”, dengan suara lemas supaya Arum tahu bahwa aku sudah tertidur.
“Arya maaf aku ganggu kamu, aku butuh ngobrol sama kamu malem ini, aku butuh kamu”, sepertinya Arum sedang menangis.
“Aku udah tidur Arum, besok lagi aja yah!”
“Ngga bisa Arya, harus malam ini, aku mohon Arya!”, tangisnya semakin keras.
“Yawdah, aku kesitu sebentar lagi tapi ngga bisa lama yah! Soalnya besok aku harus kerja.”
Aku pun tidak tega mendengar tangisnya, aku menemuinya. Begitu masuk ke mobilku, dia tiba-tiba memelukku sambil menangis. Aku tidak bereaksi apa pun, aku bahkan tidak berani menyentuhnya.
“Kamu kenapa Arum?”
Mobilku melaju, sepanjang jalan Arum bercerita padaku tentang permasalahan yang menimpanya. Perlakuan kasar dari pacarnya dan perlakuan yang tidak mengenakkan dari keluarga pacarnya adalah pemicu utamanya. Kini aku tahu bahwa banyak sekali waktu yang Arum lewati dengan penuh kesedihan dan penderitaan selama berhubungan dengan pacarnya. Setelah sedikit tenang, aku membawa Arum ke kedai warung kopi di bilangan jalan Dago. Aku berusaha menyikapinya dengan bijak, aku ingin menenangkannya tapi juga tidak membuat penilaian buruk tentang pacarnya karena aku tidak mengenalnya dengan baik. Setelah sedikit tenang, aku mengajak Arum untuk pulang karena waktu semakin larut.
Di perjalanan menuju rumahnya Arum berkata, “Arya, aku boleh jujur ngga?”. “Ya boleh lah, kenapa ngga?” kataku. “Jujur, aku berharap cowok aku kayak kamu, bukan hanya dewasa tapi juga membimbing aku”, balasnya. Aku bingung menjawabnya, aku tidak mungkin bersikap tidak baik supaya dia menghindariku tapi aku juga tidak ingin Arum sampai membenci pacarnya.
“Arum, aku cuma bisa bilang, kamu jangan pernah membandingkan cowok kamu dengan cowok lain. Semua cowok pasti punya kelebihan dan kekurangan, kamu itu ada untuk melengkapi kekurangannya. Aku percaya, kamu sama cowok kamu cuma perlu komunikasi lebih baik aja. Keras jangan dibalas keras, lembut harus dibalas lembut. Kalo satu ngga bisa mengalah, yang lain harus bisa mengalah, supaya hubungan kalian bisa berjalan terus. Bersikap sabar, lembut, dan mengalah itu ngga menunjukkan kamu lemah. Malah justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa kamu itu sangat kuat dan hebat”, ucapku.
“Masalahnya Arya, aku udah seperti itu. Aku udah terus mengalah, aku selalu diam saat dia marah. Aku juga udah berbuat baik ke dia dan keluarganya. Dia itu sangat posesif, nyuruh aku ngga dandan kalo kuliah katanya supaya ngga ada cowok yang ngecengin aku, aku juga ngga boleh punya temen, dia bahkan ngelarang aku terlalu deket sama keluarga aku karena katanya keluarga aku ngga baik. Tapi aku ngerasa, dia lah yang ngebawa aku ke kehidupan yang ngga baik. Aku bingung harus gimana?”, katanya sambil terlihat sedikit emosional.
“Masa? Kalo emang dia kayak yang kamu bilang, kenapa kamu masih sama dia? Trus orang tua kamu tau?”, tanyaku.
“Keluarga aku tau. Mereka marah dan nyuruh aku tinggalin pacar aku. Aku tau pacar aku salah, aku pengen bilang sama dia kalo keluarga aku itu baik. Tapi di sisi lain, aku takut juga kehilangan dia. Banyak hal yang membuat aku ngga bisa lepas dari dia. Aku bingung sekarang aku harus gimana. Aku pengen hidup aku tenang, aku ngga bisa!”, katanya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kamu harus jujur Arum, jujur sama perasaan kamu ke dia. Kamu ngga perlu takut buat ngungkapin perasaan kamu ke dia. Hubungan itu harus berjalan dua arah di antara kamu dan dia. Kamu harus percaya, jodoh itu ada di tanganNya. Mungkin sekarang kamu ngerasa semua udah terlanjur, ngerasa ngga bisa lepas lagi darinya, yang buat aku, itu salah! Kamu harus sadar bahwa tidak ada yang terlanjur dalam hidup. Selama ada umur, Tuhan selalu memberi kita kesempatan untuk mengubah hidup seperti yang kita mau. Mungkin sekarang kamu ngerasa dia yang terbaik untuk kamu, tapi apa kamu yakin bahwa dia adalah yang benar-benar kamu butuhkan? Hanya Tuhan yang tahu, dan untuk itu kita jangan berburuk sangka. Ada hikmah dari setiap kejadian, dan kita akan semakin baik kalo kita benar-benar belajar darinya. Yakinlah, Tuhan yang akan memasangkan seseorang dengan seseorang, yang baik dengan yang baik menurutNya, bukan menurut kita”, pungkasku.
“Oke Arya, besok aku bakal ketemu cowok aku, aku bakal berusaha sampein isi hati aku. Mudah-mudahan dia ngerti”, jawabnya.
Hari-hari berlalu, aku tidak lagi menerima sms dari Arum. Aku merasa tenang, mungkin hubungannya dengan sang pacar sudah berangsur membaik. Aku senang, namun entah mengapa kini justru aku yang merindukannya. Rasanya ingin sekali bertemu lagi dengannya.
Bagai gayung bersambut, Arum kembali mengirimiku sms “Arya lagi apa? Aku kangen..
”. Kaget, namun entah mengapa aku senang karena ternyata dia merindukan aku. “Kok bisa kangen sama aku? Gimana kemaren ini sama cowok kamu?”, jawabku. Namun jawabannya, “Ya bisa lah, cowok aku? Kan kamu cowok aku.. He3x..”. Aku cepat membalasnya, “Aku? Ngawur kamu!”. “Biarin, aku bakal tunggu kamu. Kan kamu bilang kalo Tuhan selalu memberi kesempatan untuk mengubah hidup kita sesuai yang kita mau. Ya, aku mau kamu!
”, ucapnya nakal. Ah, sial aku tidak suka ini karena aku merasakan dua perasaan berlawanan di saat yang bersamaan. Aku merasa senang membaca sms nya tapi aku merasa bersalah karena merasa senang. Aku tidak bisa menjawab sms nya lagi. Malam itu aku tidak bisa tidur, berulang-ulang aku membaca sms darinya. Aku harus mengakui bahwa sejujurnya sejak malam itu aku telah jatuh hati kepadanya tapi aku tidak ingin mengungkapkannya.
Pagi hari aku terbangun, bersiap memulai hariku dan aku menerima sms dari Arum “Met pagi Arya, aku sayang kamu.. ”. Aduuuuhhh.. Aku merasa seperti ketika aku kembali menyukai perempuan seperti saat pertama kali aku merasakan jatuh cinta. Aku loncat-loncat, tertawa cekikikan, ah terlalu sulit bagiku untuk mengungkapkan betapa senangnya aku pagi itu. Selanjutnya, hari-hariku dipenuhi sms-sms dari Arum yang menyenangkan hatiku.
Suatu saat Arum mengajakku bertemu, saat itu aku sudah tidak bisa lagi menolaknya, aku malah sangat senang menerima ajakannya. Kami pergi ke sebuah mall, berjalan berdua bersamanya. Kemudian dia mampir ke sebuah toko aksesoris dan membeli sesuatu lalu membungkusnya. Saat kami makan bersama, Arum memberiku kotak kecil yang dia beli tadi untuk aku buka. “Apa nih?”, kataku. “Buka aja”, Arum menjawab dengan senyuman. Setelah aku buka, ternyata itu adalah dua buah kalung berbentuk hati yang terbelah dua, namun jika dieratkan dia menempel dengan erat. “Ini satu buat aku, satu buat kamu, artinya hati kita satu”, ujar Arum dengan terus menatap wajahku dengan senyumannya yang menyejukkan hatiku. Malam itu, aku akhirnya berani mengucapkan perasaanku dengan jujur, “Arum, sejujurnya, aku juga sayang sama kamu. Aku ngga pernah tahu kenapa aku mencintai kamu, yang aku tahu, hati aku memilih kamu. Tapi kamu tahu, kita ngga mungkin bersatu. Tolong kasih tau aku, salahkah aku jika berpaling dari pacar aku untuk kamu? Salahkah hati aku, jika aku mencintai kamu?”.
Arum terdiam, tiba-tiba dia meneteskan air mata sambil terus menatapku. Beberapa saat kemudian dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis. Dia kemudian berbisik padaku, “Aku ngerasa yang sama. Aku udah punya cowok tapi aku juga sayang banget sama kamu Arya! Hati aku memilih kamu dan aku ngerasa kamu lah belahan jiwa aku!”.
Sesampai di rumah, aku membiarkan tubuh yang masih berbalut pakaian ini basah di bawah siraman air dari shower di kamar mandiku. Caraku untuk melepaskan kepenatan. Tapi tidak bisa, aku selalu mengingatnya, aku mencintainya! Aku tidak pernah tahu mengapa aku mencintainya, tapi yang aku tahu, hati ini memilih dia.
Sungguh ini tak mudah bagiku dan dia, merasakan hal yang sama. Saat cinta bertarung dengan nurani. Akankah cerita ini untuk selamanya? Cinta seperti terlarang untuk diriku dan dirinya. Sungguh, aku tidak pernah meminta dan berniat untuk bertemu lagi dengannya apalagi sampai mencintainya, dan mungkin begitu pun dia terhadapku. Karena Tuhan yang mempertemukan lagi aku dengannya, apakah terlarang bagi aku dan dia untuk saling mencintai? Bukankah semua orang berhak atas cinta. Namun jika cinta ini harus menyakiti hati yang lain, aku harus bagaimana?
Aku hanya bisa berharap Tuhan tunjukkan yang terbaik, dimana aku dan dia menemukan jalanNya, untuk hidup bersama atau pun tidak.
LAGU DAN VIDEO “CINTA TERLARANG”
Passionizme – Cinta Terlarang by Passionizme
Jadikan lagu ini menjadi nada sambung pribadi di handphone kamu:Ketik RING<spasi>SUB<spasi>2318091 Kirim ke 1212 (Telkomsel/Flexi)
Ketik SET<spasi>063490799 Kirim ke 808 (Indosat)
Ketik RING<spasi>10905898 Kirim ke 1818 (XL)
Ketik RING<spasi>2318091 Kirim ke 888 (Esia)
Ketik RINGGO<spasi>SET<spasi>421809141 Kirim ke 2525(Fren)




















100%