Mimpiku Setinggi Langit Ketujuh
“Buku adalah jendela dunia! Sebuah stiker berukuran kecil menempel di lemari tua di dalam rumahku. Saat itu aku tidak mengerti apa artinya?”
Melewati masa kecil di keluarga sederhana namun menyenangkan, membuatku merasa nyaman untuk belajar banyak hal. Ya, aku memang beruntung. Meski tak banyak mainan yang aku miliki, tapi banyak sekali buku di rumahku yang sederhana. Ayah, ibu, nenek, kakek, paman dan tante yang tinggal bersamaku di rumah yg kecil itu memiliki satu kesamaan, mereka semua gemar membaca. Aku pernah bertanya pada ibuku, apakah arti dari tulisan di stiker itu. Saat itu, lekat di ingatanku, ibuku menjawab, “Kalau kamu baca buku, kamu bisa melihat seluruh isi dunia”. Belum cukup bagiku untuk memahami perkataan ibuku karena usiaku yang masih terlalu muda. Namun jawaban dari ibuku membuat rasa ingin tahu ku semakin besar.
Ada masa di mana tante dan pamanku satu per satu meninggalkan rumah. Saat itu kesedihan menghampiriku karena mereka bagiku adalah warna yang membuat keceriaan di dalam rumahku. Aku bahkan menangis saat tanteku harus pindah ke Jakarta karena setelah lulus kuliah tanteku mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Aku terus merengek pada kedua orang tuaku menanyakan kapan tanteku pulang karena aku begitu merindukannya. Lagi-lagi ibu membuka hal baru bagiku, ibu mengatakan bahwa ini adalah proses hidup yang kelak akan juga aku jalani. Manusia tumbuh berkembang, kita pergi sekolah lalu kuliah dan kemudian bekerja, ada kalanya kita tidak bekerja di tempat dimana kita dibesarkan, seperti tanteku. Aku masih bersedih, masih berkirim surat pada tanteku dan terus menanyakan kapan pulang. Waktu berjalan terus, aku pun semakin mengerti saat pamanku juga harus pergi ke luar kota untuk bekerja. Rumah kecilku menjadi semakin sepi, namun anggota baru telah hadir, ya mereka adik-adikku. Satu hal yang lalu aku pahami adalah bahwa seseorang kadang perlu pergi jauh melewati petualangan baru untuk melanjutkan hidupnya. Sampai sana aku masih terus bertanya, apa arti kalimat sederhana di stiker itu.
Beranjak dewasa, aku pikir sudah dekat dengan waktuku untuk pergi meninggalkan rumah seperti paman dan tanteku dulu. Tapi nyatanya, masa itu tidak segera datang padaku. Justru rintangan dan cobaan menerpa keluargaku. Dimulai ketika Ayah berhenti bekerja karena ada perampingan karyawan di kantornya, belum lagi Ibu yang tidak bekerja. Sering kulihat ibu terdiam dekat jendela membaca buku dan kadang menengok keluar jendela dengan mata sedikit berair. Kulihat ayah merapi-rapi isi rumah mencari kesibukan. Aku sangat sedih melihatnya, aku tidak bisa jika hanya berdiam diri. Apalagi saat kulihat tidak ada makanan di atas meja, aku kasihan dengan adik-adikku. Mereka tidak mengerti, tapi mereka harus merasakan kesulitan ini. Belum lagi, aku harus berjuang untuk mencari uang supaya bisa beli buku untuk kuliahku. Kan kata ibu, buku adalah jendela dunia.
Aku bekerja menjadi asisten dosen di kampusku, tapi gajiku tidak seberapa, hanya 60 ribu rupiah saja untuk satu semester, tidak cukup untuk bisa membantu ibu dan ayah apalagi untuk biaya sekolah adik-adikku. Aku pun harus mencari tambahan dengan menjadi guide di galeri iptek bahkan sampai menjadi kuli angkut di pasar. Untuk ini, aku tidak pernah membiarkan ibu dan ayahku tahu apa yang aku kerjakan untuk mendapatkan tambahan karena aku tidak ingin mereka kuatir. Yang terpenting, pekerjaan yang aku lakukan halal dan karena niat yang baik. Tapi, ternyata melakukan yang seperti itu pun hanya bisa membuatku dan keluarga bertahan hidup, jauh dari mengembangkannya. Setiap hari aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan?
Di balik kesulitan, Tuhan memberikanku jalan. Ibu ku pintar sekali memasak, aku memintanya memasak seadanya untuk kujual kepada teman-teman di kampusku. Akhirnya, setiap hari aku pun membawa kantong keresek berisi nasi bungkus. Berawal dari teman-teman terdekat, penjualan ternyata meningkat sampai teman-teman dari unit dan lab di kampusku ikut memesan. Setiap hari, tas gendongku dipenuhi nasi bungkus, belum lagi dua keresek besar yang kujinjing. Aku sangat bersemangat dan bahagia karena usah kecil-kecilan ini bisa berjalan. Bagai gayung bersambut, sebuah pabrik memesan nasi bungkus secara rutin untuk makan siang karyawannya. Ibu sungguh terlihat bahagia, meskipun tidak seberapa, tapi aku bahagia melihatnya tersenyum. Kini setiap hari aku bisa melihat ayah dan ibuku bekerja lagi. Ayah pergi ke pasar, Ibu memasak, dan aku mengantar nasi bungkus ke pabrik. Usaha kami pun terus berkembang, kami pun membuka usaha makanan di pujasera untuk mencoba mengembangkan usaha. Pekerjaan pun bertambah, selain mengantar nasi ke pabrik, aku juga menjadi koki di pujasera. Perlahan tapi terus berjalan, kelak akan sampai tujuan. Aku memegang teguh prinsip itu. Aku tidak gengsi, apalagi merasa malu, aku justru merasa bangga sekaligus bahagia karena aku dan orang tuaku bisa bekerja bersama. Satu hal yang belum tentu bisa kurasakan lagi nanti.
Nyata, bahwa hidup itu tidak akan selamanya sulit, kemudahan pasti datang menyertai bagi mereka yang terus mencari. Tuhan pun memberiku kesempatan itu. Saat kesiapan bertemu dengan kesempatan, aku pun beruntung! Setahun dari masa-masa itu, tiba-tiba saja duniaku berubah. Aku mendapatkan pekerjaan dimana apa yang kupelajari di kuliah menjadi bermanfaat. Pekerjaan yang membuat ilmu yang kudapat dari buku-buku yang dengan susah payah dulu kubeli menjadi tidak mubazir. Pekerjaan yang membuatku harus pergi dari rumah seperti tante dan pamanku dulu. Pekerjaan yang membuatku dekat dengan alam, gunung-gunung yang menjulang tinggi, hutan-hutan belantara, bahkan hingga ombak di lautan biru. Kini, hidupku adalah petualanganku!
Suatu saat, aku berada di puncak salah satu gunung tertinggi di Indonesia. Hening, sunyi, hanya ada angin yang meniup daun dan bebatuan, menjadikannya nyanyian alam yang membuatku haru. Mataku basah melihat mahakarya Tuhan yang baru kali itu aku lihat. Jantungku masih berdetak keras ditambah keringat dan rasa lelah setelah tujuh jam mendaki. Tiba-tiba saja aku teringat wajah ibu dan ayahku. Sungguh, mendaki gunung bagiku mengingatkan banyak hal. Tentang memori hidup yang pernah kulalui dulu. Aku memahami karena aku pernah mengalaminya. Mencapai puncak gunung itu tidak pernah mudah dan selalu melelahkan, seperti juga hidup. Untuk itu kita perlu bersabar tapi tetap tekun untuk terus berjalan meski perlahan, karena selama kita berjalan, suatu saat kita akan sampai ke tujuan. Kita pun harus berhenti mengeluh, sebaliknya, justru harus mensyukuri apa pun yang Tuhan telah berikan pada kita. Sesedikit apa pun yang Dia berikan, itu adalah modal bagi kita untuk berjuang. Seharusnya, mereka yang ditimpakan banyak kesulitan menyadari, tak ubahnya ini seperti ujian saat kita sekolah dulu. Berbaik sangka, bahwa Tuhan memberi ujian tidak lebih karena Dia ingin kita “naik kelas”. Kita hanya perlu melewatinya, lulus dari ujian itu. Aku percaya tidak ada tujuan yang tidak bisa kita raih jika kita terus memperjuangkannya.
Aku merasa belum cukup banyak bersyukur atas apa yang aku dapat dariNya. Tapi Tuhan terus saja memberiku begitu banyak kesempatan dan kemudahan untuk melewati petualangan-petualangan hidup yang baru. Aku berkesempatan untuk melihat isi dunia yang lebih luas, benua yang lain dimana aku menemukan begitu banyak hal yang baru. Dulu hanya tahu salju, kini aku kenal salju, menyentuhnya. Dulu hanya lihat bule di televisi, sekarang banyak temanku bule, berbicara dengannya. Dulu, di pujasera tempatku berjualan makanan, kami para pedagang suatu saat berkumpul dan menonton televisi saat sedang sepi pengunjung. Saat itu, sedang ada liputan tentang Tower Eiffel di Paris. Aku pernah berkata bahwa aku akan berada disana suatu saat nanti. Hmmm.. pedagang lain hanya mentertawakanku sambil berkata “ngga usah mimpi deh, jualan aja yang bener! kalo mimpi ketinggian itu ngga bagus”. Sekarang, andai mereka masih bisa kusapa, aku akan tunjukkan pada mereka, bahwa aku sudah bisa berada disana karena dulu aku bermimpi sementara mereka hanya bekerja.
Tidak banyak tempat yang bisa aku kunjungi saat kecil, padahal aku ingin. Tapi aku punya ibu yang hebat, yang membukakan mataku. Kini aku sudah mengerti arti tulisan dalam stiker itu. Sekarang aku bisa melihat banyak tempat dan berbagai kepribadian di berbagai pelosok dunia dimana buku adalah jendelanya. Dan mimpi adalah cermin masa depan kita. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih selama kita terus berjalan, menikmati segala rintangannya yang hanya akan
membuat kita terus belajar dan menjadi lebih baik. Berlarilah lebih cepat dari waktu, bermimpilah lebih tinggi dari siapapun, berpikirlah lebih cerdas dan terus berjuang tiada henti!
(copyright © Passionizme 2011)
LAGU DAN VIDEO “MIMPIKU SETINGGI LANGIT KETUJUH”
Ketik RING<spasi>SUB<spasi>2318088 Kirim ke 1212 (Telkomsel/Flexi)
Ketik SET<spasi>063490999 Kirim ke 808 (Indosat)
Ketik RING<spasi>10905895 Kirim ke 1818 (XL)
Ketik RING<spasi>2318088 Kirim ke 888 (Esia)
Ketik RINGGO<spasi>SET<spasi>421808841 Kirim ke 2525(Fren)




















100%