0

Muda dan Gila

“Bagiku, tidak ada dunia yang paling indah selain dunianya anak muda. Bebas melangkah, penuh dengan pilihan, dan apinya terus membara!”

Suatu saat di warung pinggir jalan, aku bersama para sahabat menikmati teh hangat di heningnya malam di akhir pekan. Ya, kami baru saja selesai latihan band di studio. Sekumpulan anak muda dengan mobil mewahnya sedang berkumpul di sebuah kafe dengan musik dugstak-dugstak tidak jauh dari tempat kami bersila. Muda mudi nampak bersiap untuk menghabiskan malam panjangnya disana. Kepulan asap rokok berhembus dari mulut mereka yang berdandan sangat modis dan mahal. Begitu ceria senyuman mereka, mereka begitu santai seolah dunia hari itu adalah miliknya. Namun beberapa jam kemudian keadaannya bertolak belakang. Mereka yang tadinya begitu ceria, keluar dengan tubuh yang lunglai. Berdiri tegak pun mereka tak mampu. Ooohh.. Nampaknya mereka mabuk, bahkan di antara mereka ada yang muntah. Kesadaran mereka nampak sudah musnah.

Pagi yang cerah keesokan harinya, matahari terbit dan aku sudah berada di tempat parkir Sasana Budaya Ganesha. Setelah berlari beberapa keliling, aku pun menikmati sepiring bubur ayam. Disana, kulihat begitu banyak muda mudi beraktivitas, mereka semua terlihat jauh berbeda dari mereka yang kulihat kemarin malam. Mereka berkeringat, memacu adrenalin, dan mereka tidak berleha-leha! Mereka berolah raga bermandikan keringat. Ada yang terus berlari di lintasan, ada yang bermain sepakbola, basket, tenis, renang, dan juga bersepeda. Tak sampai disana, pagi itu aku menyempatkan diri berjalan-jalan di kampusku dulu. Kulihat ada grup yang sedang berlatih bela diri sementara yang lain serius berlatih tarian tradisional. Keceriaan aku lihat dari wajah-wajah mereka. Kepala yang tegak, wajah-wajah pemuda yang begitu segar dan penuh semangat. Seolah-olah, ada api yang membara di dalam jiwa mereka. Sebuah ironi yang kulihat di dunia yang sama.

Bagiku, luar biasa banyak cara untuk membuat kita bahagia. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing dalam membahagiakan hatinya. Aku tidak mau memvonis muda mudi yang mabuk-mabukan. Meski tidak sejalan dengan hatiku, adalah hak mereka untuk menjalani hidup seperti itu. Tapi bagiku, mereka hanya anak muda yang biasa. Aku tidak tertarik dengan mereka yang biasa, aku lebih tertarik dengan anak muda yang tidak biasa, yang kusebut ‘Muda dan Gila’.

Jogjakarta 2008. Suatu saat aku mendaki Gunung Merapi di Jogjakarta. Butuh sekitar 4-5 jam untuk sampai ke puncaknya, Puncak Garuda! Perjalanan cukup melelahkan terutama karena terik matahari yang amat menyengat. Tak lama setelah aku sampai ke puncaknya, aku duduk menikmati air mineral sambil melihat awan yang berada di bawah kakiku. Tak lama kemudian, seorang perempuan muda tiba juga disana dengan wajah kelelahan, pakaiannya nyaris basah semua oleh keringatnya. Sesaat kemudian, wajahnya berubah menjadi sumringah, mungkin karena menyadari pendakiannya sudah berakhir ditambah karena luar biasanya pemandangan yang terlihat dari bangunan pencakar langit ciptaan Tuhan itu. Kemudian dia menghampiriku, dia memintaku untuk mengambilkan foto dengan kameranya. Dia pun mulai memanjat lalu berteriak dan mengepalkan tangannya ke atas langit sementara tangan lainnya mencengkram batu kokoh Puncak Garuda. Gayanya berfoto berbeda sekali dengan gaya foto-foto perempuan seusianya yang sering kulihat di situs jejaring sosial. Perempuan ini tidak terlihat lemah, sebaliknya, dia terlihat kuat. Kami pun bersantai mengobrol setelahnya. Saat itu, aku takjub melihat seorang perempuan yang mendaki hingga ke puncak Gunung Merapi sendirian. Aku menjadi lebih takjub saat mengetahui dia bukan orang Jogjakarta. Perempuan itu masih duduk di bangku kelas satu di salah satu SMU di Tasikmalaya. Ini adalah pendakian kesekian kali baginya. Bahkan Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, pernah dia taklukan. Baginya, tidak peduli betapa pun lelahnya, mendaki gunung adalah caranya membahagiakan hati.

Bandung 2008. Aku punya sekumpulan kawan, sama-sama alumni dari perguruan tinggiku dulu di Bandung. Suatu saat, bersama seorang sahabat aku mengunjungi mereka yang tinggal bersama di sebuah rumah di wilayah Sarijadi. Dulu, kami tergabung di unit kegiatan mahasiswa yang sama, unit kajian sosial humaniora namanya. Aku senang sekaligus bangga pada mereka karena mereka masih seperti dulu, terus berkarya untuk negeri dengan cara yang luar biasa, melakukan penelitian dan kajian budaya Indonesia dengan bekal sains yang mereka pelajari. Yang membuatku takjub, dengan sains, mereka berupaya untuk melestarikan kebudayaan negeri. Dengan Fisika, mereka mampu mengekstrak pola-pola batik yang ada di seluruh Indonesia. Bukan hanya itu, mereka juga mampu merunut kekerabatan di antara pola-pola batik itu, memahami sejarah. Tak heran jika mereka pernah dianugerahi penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia atas karyanya ini. Ini lah yang kusebut nasionalisme yang tidak semu. Mereka mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, bukan hanya dengan berteriak “Aku Orang Indonesia!”, tapi melalui karya yang revolusioner yang mendongkrak martabat negeri. Bagiku, mereka bukan sekedar sekumpulan anak muda yang biasa.

Bandung 2008. Aku punya adik perempuan. Bagiku, dia adalah perempuan hebat. Bukan mengaguminya karena dia adikku, tapi karena apa yang dilakukannya. Jika banyak perempuan sering bersedih dan menangis, dia bukan di antaranya. Jika banyak perempuan gemar berbelanja barang-barang bermerk, dia bukan di antaranya. Jika banyak perempuan membayar mahal untuk membeli kecantikannya, dia pun bukan di antaranya. Dia adikku yang sangat kuat, dia adalah seorang atlet sekaligus ketua unit tae kwon do di sekolahnya dulu. Dia adalah perempuan yang kreatif, dia mampu menyulap barang yang murah menjadi mahal dengan kemampuan seninya yang tidak biasa. Dia sangat mandiri, di lapangan Gasibu dia sering berjualan untuk uang sakunya. Hal yang mungkin tidak dilakukan banyak perempuan lain karena gengsi. Salah satu yang membuatku takjub adalah saat dia memilih untuk memakai jilbab dengan pencariannya sendiri. Pakaiannya adalah hatinya, itu yang kulihat selanjutnya. Dia mengajar mengaji anak-anak jalanan bersama beberapa temannya dan dia selalu tampak bersemangat melakukannya. Aku salut dengan semangatnya untuk berbagi. Hingga kini, saat hampir semua temannya mengejar ambisi pribadi, dia masih terus mengajar. Adik perempuanku membeli kecantikan dengan hatinya.

Namur 2008. Di kota Namur, Belgia, ada satu tempat yang menyenangkan untuk sekedar duduk-duduk, berjalan kaki, bersepeda atau bahkan melamun sekalipun. Citadel namanya, sebuah situs bersejarah, warisan Wallonia yang membentengi kota. Tempat yang sejuk dimana angin meniup pelan menyelinap di antara pohon-pohon besar dan rerumputan. Di ketinggian benteng itu, kita bisa melihat pemandangan kota yang sunyi, tempat bertemunya aliran sungai besar La Meuse dan La Sambre. Disana, sepasang muda mudi sedang melewati harinya yang penuh cinta. Sang Romeo duduk sambil membaca buku, sementara Sang Juliet bersandar di sebelahnya. Sesekali perempuan itu melempar roti dan sekelompok merpati pun datang menghampiri mereka. Kulihat senyuman bahagia dari ekspresi wajah mereka. Indahnya jatuh cinta, dunia seakan milik mereka berdua. Cinta yang tidak mahal, tidak perlu mengosongkan isi dompet. Cukup sebuah buku dan beberapa potong roti, lalu cinta itu pun menjadi begitu indah. Aku bisa merasakan indahnya meski hanya melihat dari kejauhan, dan meski saat aku sendiri. Bahagianya menjadi seperti mereka, menjadi muda dan jatuh cinta dengan cara yang tidak biasa.

Pernahkah kita mengingat, saat kita jauh lebih muda dari sekarang. Dulu sekali, saat kita masih di bangku taman kanak-kanak. Aku selalu ingat pertanyaan Ibu Yus, guruku dulu. “Anak-anak, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?”. Ada yang menjawab presiden, dokter, pilot, insinyur, guru, polisi, dan lain-lain. Cita-cita yang liar, impian yang tanpa batas. Aku senang jika mengingat masa itu, mengingat bahwa kita merasa bisa bebas memilih, merasa mampu menjadi siapa pun yang kita inginkan. Pada kenyataannya, hidup memang tetap seperti itu, selalu memberi kita pilihan yang luas bahkan hingga hari ini. Namun, mungkin kita sendiri lah yang membatasi pilihan tersebut. Kita merasa bahwa pilihan itu sudah tidak sebanyak dulu lagi. Kita menjadi terlihat renta jika seperti itu, merasa tidak mampu lagi bebas dalam bermimpi.

Aku tetap ingin menjadi diriku yang seperti dulu, yaitu pada kenyataan bahwa aku bisa menjadi siapa pun yang aku inginkan, berkuasa atas hidupku. Meski lalu banyak orang yang menggerutu, mengatakan aku tidak dewasa dengan bersikap seperti itu. Aku memang mendengar gerutuan itu dari sekelilingku yang menganggap bahwa aku terlalu kekanak-kanakan dan tidak sadar akan usiaku yang terus bertambah, menganggapku bocah tua nakal. Aku sungguh tidak peduli dengan gerutuan mereka. Mereka tidak mengerti bahwa hidupku ini bukan lah hidup mereka. Aku memang berbeda dengan mereka, aku yang memilih untuk menjadi berbeda. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka yang tua sebelum waktunya. Menjalani hidup hanya untuk menunggu tua lalu mati. Terjebak dalam kemapanan hidup yang tanpa rintangan. Aku tidak ingin menjadi seperti itu, aku tidak ingin cepat tua, aku ingin selalu menjadi muda! Aku masih kuat menghadapi rintangan, aku masih kuat berkeringat, aku masih kuat berjuang, aku masih kuat bermimpi sebebas-bebasnya, dan bercita-cita seliar-liarnya. Aku ingin api dalam semangat ini terus menyala berkobar-kobar!

Aku tidak ingin menjadi seperti mereka yang merasa bahwa mimpinya ‘telah usai’. Aku juga tidak ingin menjadi seperti mereka yang menghabiskan waktunya untuk menjadi lunglai. Aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk menjemu! Waktu tidak akan pernah dapat aku putar kembali. Bermimpi dengan bebas dan bercita-cita dengan liar adalah sebagian caraku untuk menikmati waktu yang tersisa, semata karena aku tidak ingin menyesali hidupku nanti. Aku ingin menjadi seperti perempuan kuat yang kutemui di puncak Merapi, aku ingin menjadi seperti teman-temanku yang terus berkarya untuk negeri, aku ingin menjadi seperti adikku yang selalu semangat untuk berbagi, dan aku pun ingin menjadi seperti mereka yang penuh dengan cinta. Aku ingin menjadi ‘Muda dan Gila’!

Tahukah kamu rasanya, menjadi ‘Muda dan Gila’?

(copyright © Passionizme 2011)

LAGU DAN VIDEO “MUDA DAN GILA”

author: Passionizme

OFFICIAL VIDEO : MUDA DAN GILA

Jadikan lagu ini menjadi nada sambung pribadi di handphone kamu: Ketik RING<spasi>SUB<spasi>2318089 Kirim ke 1212 (Telkomsel/Flexi) Ketik SET<spasi>063491099 Kirim ke 808 (Indosat) Ketik RING<spasi>10905896 Kirim ke 1818 (XL) Ketik RING<spasi>2318089 Kirim ke 888 (Esia) Ketik RINGGO<spasi>SET<spasi>421808941 Kirim ke 2525(Fren)
5.7/63votes
Voting statistics:
RatePercentageVotes
667%2
533%1
40%0
30%0
20%0
10%0
Click to share thisClick to share this