Story Behind The Symphony
“There is always a story behind every symphony of Passionizme..”
Pernah ada seorang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Kenyataannya, itu memang tidak salah. Manusia lahir, tumbuh dan berkembang untuk belajar tentang hidup, agar bisa bertahan hidup, demi hidupnya yang lebih baik. Hakikatnya, Tuhan sudah memberi manusia ilmu bahkan sejak mereka lahir. Seorang bayi tidak perlu belajar untuk menyusu, menangis, dan tertawa. Namun hidup bukanlah sekedar untuk makan dan memuaskan rasa. Karenanya, manusia perlu memiliki guru.
Ibu dan ayah adalah guru pertama kita di dunia. Mulai dari belajar makan dan minum yang baik, dari berbicara terbata-bata hingga bermakna, dari berjalan sampai kita mampu cepat berlari, dan banyak lainnya. Pernahkah kita merenung lalu bertanya. Jika berujung pada kematian, mengapa Tuhan menitipkan hidup kepada manusia? Disanalah kita mulai menyadari, bahwa kita harus belajar.
Hidup tidak selebar daun kelor, kita sering mendengarnya. Memang, begitu banyak sekali hal yang kita temui di dalamnya hidup itu. Semakin banyak yang kita tahu, ternyata semakin banyak yang tidak kita ketahui. Di sekolah kita belajar hal yang baru. Bukan hanya pelajaran yang diberikan guru kepada kita, namun kita pun ternyata menemukan banyak hal baru lainnya.
Interaksi, adalah kunci. Banyak sekali bentuk interaksi, interaksi bisa terjadi antara orang tua dan anaknya, antara sesama teman, antara guru dan muridnya, antara lelaki dan perempuan, bahkan dengan binatang maupun alam dan lainnya. Dari interaksi itu lah maka lahir apa yang kita sebut pengalaman. Sesuai namanya, pengalaman, adalah apa yang kita pernah alami.
Namun kita memahami, tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Kadang kita perlu berbagi pengalaman di antara teman atau saudara. Kita tahu bahwa salju itu dingin, meskipun di hampir pelosok negeri kita tidak pernah turun salju. Kita tahu ada planet lain selain bumi padahal kita tidak pernah berada disana. Kita menjadi tahu banyak hal lain karena berbagi pengalaman. Karenanya, berbagi pengalaman adalah hal yang baik.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk berbagi pengalaman, bisa dengan ngobrol bersama teman, bisa dengan membaca buku, dan bisa juga dengan media lainnya, seperti musik. Inilah salah satu hal yang mendorong Passionizme untuk berbagi pengalaman, melalui musik. Lagu-lagu Passionizme berasal dari energi yang lahir dari pengalaman yang nyata. Semua lagu diciptakan setelah terciptanya lirik. Memahami bahwa lirik lagu hanyalah ringkasan dari catatan pengalaman, maka melalui media ini Passionizme berusaha menyajikan pengalaman yang lebih utuh.
Hidup itu bukan tentang memperjuangkan kepentingan.. tapi tentang membuatnya menjadi penting. Jika tidak ada orang yang pernah mengalami mati, maka tidak akan ada yang pernah tahu seberapa pentingnya arti kehidupan. Pengalaman bisa menjadi rambu yang menjaga perjalanan sekaligus motivasi kita dalam memperjuangkan hidup agar lebih baik dari hari ke hari meskipun sedikit. Semoga “Story Behind the Symphony” bisa berkenan di hati sahabat Passionizme di mana pun berada. Mendewasakan hidup, menjadikannya penting dan berarti bagi banyak orang. Selamat membaca…
Cinta Terlarang
“Tahukah kamu apa yang menyedihkan tentang cinta? Ketika kamu menyadari bahwa tidak mungkin untuk bersatu tapi kamu tetap berharap, ketika pikiranmu mengatakan “biarkan pergi” tapi hatimu mengatakan “jangan pergi”, dan ketika seberapa pun kerasnya kamu berusaha untuk melupakan dia tapi kamu tidak bisa, karena kenyataan bahwa kamu mencintainya dan kamu tidak tahu kenapa.”
Di beranda kamar, menikmati pagi yang ramah, matahari pagi yang menyejukkan hati, kicauan burung menemani kesyahduan di tempatku bersila. Secangkir kopi dan gitar membuatnya menjadi lebih sempurna. Hiburan yang menyenangkan dan mewah untuk seorang pengangguran macam aku. Setiap hari adalah misteri, setiap hari penuh dengan pertanyaan tentang apa dan mengapa. Untung aku masih bisa mengantar pesanan nasi ke pabrik, merasa bahwa aku sedikit berguna dan mampu berkarya. Banyak yang menyayangiku, banyak yang mengasihaniku. Aku berterima kasih untuk sayangnya namun aku malu untuk dikasihani. Read more




















100%
